Source Code

Belajar pemrograman, modul kuliah, Humor dan kisah inspiratif sehari-hari.

Showing posts sorted by relevance for query literasi. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query literasi. Sort by date Show all posts

Wednesday, 23 December 2020

LITERASI# PEREMPUAN YANG MEMBENCI HUJAN

 

literasi, novel,cerita,hujan,wanita,perempuan,artikel

Putri berlari ke kamar, duduk dengan memeluk lutut yang tertekuk di atas ranjang. Sekuat tenaga menutup telinga agar suara itu tidak terdengar. Tubuhnya gemetar, keringat bercucuran, degup jantungnya semakin bertalu berlomba dengan suara guruh dan guntur. Dengan memejamkan mata sambil merapalkan do’a agar suara itu cepat hilang, tapi sepertinya harapannya tidak terkabul, mengingat bulan ini musim penghujan datang. Mulutnya tak berhenti mengucap, “Ya Allah cepat pergi, berhenti, berhenti.”


Suara tetesan air yang jatuh ke bumi bagi Putri bagaikan ribuan jarum yang menusuk jantung, mengoyak tubuh yang lemah, membuat sayatannya semakin dalam. Suara guntur disertai petir seperti hantaman godam yang menimpa tubuh. Dulu Putri paling suka menghirup aroma tanah kering yang terguyur hujan -aroma petrikor-, tetapi sekarang aroma ini memuakkan indera penciumannya.


Lama menunggu berhentinya hujan, Putri mulai menangis, terisak perih mengingat peristiwa yang telah membuatnya terluka. Sebuah luka yang tak akan pernah sembuh. Putri mengeleng-gelengkan kepala, berharap ingatan itu sirna, tapi semakin Putri berusaha untuk menghapusnya kenangan itu malah semakin terlihat jelas. Bajunya basah dengan peluh yang tercipta, tanpa tersadar badannya ikut bergoyang tak tentu arah, Putri menjerit memukul-mukul kepalanya, “enyahlah dari kepalaku!” racaunya.


Setiap musim penghujan datang seperti memasuki lorong sempit yang gelap dan sunyi, saat itulah penderitaanya datang. Tak ada yang tahu apa yang telah dialaminya, Putri lebih memilih mengunci rapat meskipun itu  hanya akan membuatnya menderita sepanjang hidup, baginya itu adalah aib, tak ingin orang-orang memandang iba.


Tangisan dan jeritan Putri semakin melambat seiring guyuran air dari langit mereda, saat itulah penderitaannya berhenti sejenak. Lelehan air mata membuat nestapa jelas terlihat dalam bingkai wajah meredupkan sinar kecantikannya, dengan tubuh basah bermandikan keringat … lelah, itulah yang Putri rasakan.

 

-----

 

Seorang gadis kecil bersembunyi dibalik lemari baju, terduduk lemas, gemetar seluruh badan, napasnya tak beratur, tangan kanan memengang dada sebelah kiri, degupnya semakin kencang, tangan kiri membekap mulut sambil menggigit bibir bawah. Bola matanya melebar mengintip adegan demi adegan pada celah pintu lemari disertai lelehan air yang keluar membasahi pipi gembilnya, sesekali dia menutup mata tak kuasa melihat, ini terlalu menyakitkan baginya. Suara teriakan beradu kencang dengan hujan deras disertai gelegar petir membuat gendang telinganya sakit.


Ingin dia menjerit tapi teringat pesan sang bunda untuk diam jangan bersuara. Setelah sekian jam mendekam dalam ruang sempit persembunyian, lalu menjadi hening seketika. Tak terdengar lagi suara teriakan demi teriakan yang mengeluarkan cacian dan umpatan, tak ada lagi suara barang yang terlempar, tak ada lagi benda yang jatuh.


Butuh waktu bagi gadis sekecil dia untuk memutuskan keluar dari persembunyiannya, dengan tangan kecil gemetar pelan-pelan dia membuka pintu lemari. Dia tetap diam tak beranjak dari tempatnya duduk, meskipun pintu lemari sudah terbuka lebar, tertegun melihat pemandangan yang ada di depan mata.


Dengan merangkak gadis kecil memberanikan diri keluar, lalu perlahan menegakkan badannya, matanya terbelalak melihat sekeliling ruangan yang porak-poranda. Dengan kaki gemetar dia berjalan tertatih-tatih menghampiri wanita yang tergeletak di atas ranjang. Terisak pelan menggoyang-goyangkan tubuh wanita tersebut.


“Bunda bangun. Bunda bangun, Bunda!”


Ternyata wanita itu adalah ibunya, gadis kecil terus menerus membangunkan, tapi sang bunda tak juga membuka mata. Isakan pelan berganti dengan tangisan setelah menelusur seluruh tubuh sang bunda ternyata ada darah yang membasahi keningnya. Ketakutan mendera, gadis kecil menempelkan telinga ke dada sebelah kiri sang bunda, menirukan adegan yang pernah dia lihat. Dengan tersedu-sedu memastikan pendengarannya, lama … sampai akhirnya tangisnya pecah, meraung-raung memanggil sang bunda, menggoyang-goyangkan badan berharap goncangan di tubuh sang bunda  dapat membangunkan.


“Bunda bangun, Bunda. Putri takut. Bunda … Bunda bangun!”


Ditemani hujan deras, suara guntur dan petir saling bersahutan, Putri kecil terus meraung dan tak berhenti mengucap, “Bunda bangun. Putri takut.” tapi sayang sang bunda tak juga  bangun. Waktu terus merangkak, langit semakin pekat, jarum jam menunjukan ke angka 12, hujan pun belum berhenti. Putri kecil kelelahan setelah sekian lama menangis pilu sampai akhirnya tertidur sambil memeluk tubuh sang bunda.


oleh : Neng Sri

Sunday, 9 February 2020

Literasi #Sweet Seventeen


sweet,seven,ultah,nikah,literasi,cerpen


Pada suatu hari.

“Yah,” panggilku.

“Hm.” Matanya terkonsentrasi pada laptop.

“Masih cinta nggak?” pertanyaan untuk yang kesekian kali.

Suami tidak menjawab, menoleh dengan pandangan jengah, aku? biasa aja, karena sudah tahu reaksinya akan seperti itu.

Tetapi aku tetap merajuk manja, dengan menarik-narik ujung kaosnya, “masih sayang, nggak?”, akhirnya suami menjawab dengan raut muka kesal, “sayang itu sudah satu paket sama cinta, nggak usah di tanya lagi itu, kalo cinta otomatis pasti sayang.”

Kali ini aku beruntung suami mau menjawab, biasanya hanya menatap sebal tanpa keluar kata-kata.

Pada suatu malam menjelang tidur.

“Yah, apa yang bikin ayah suka terus jatuh cinta sama Ibu?”

“Ck, tidur udah malem, Bu.”

Dan lagi ini bukan pertanyaan yang pertama diajukan, entah yang ke berapa kali.

Di lain waktu.

“Yah, kenapa Ayah mau nikah sama Ibu? Padahal Ibu dari keluarga biasa-biasa saja, Mamah sama Bapak nggak punya gelar haji, ngak kaya raya seperti besan yang lain.”

“Jangan mulai bikin sinetron deh, Bu, keseringan nonton film India.” Suami bersungut, di lihat raut wajahnya pasti gemas, karena pertanyaan ini bukan yang pertama kali.

Jangan harap akan di jawab dengan romantis seperti di novel-novel percintaan, karena menurutnya kata-kata yang ada di novel bahasanya tingkat tinggi, nggak ngerti, lebih gampang di mengerti bahasa coding pemograman.

“Yang bagus itu baca buku komik manga atau nonton kartun Jepang, bikin happy, pikiran bebas, nggak ngejelimet, pesan untuk berjuang, pantang menyerahnya dapet.” Alasannya.

Nunggu suami berkata romantis, seperti mengharap siput juara pada lomba lari maraton cheetah.

Terkadang aku mengirim pesan yang tidak bermutu, setidaknya itu menurutnya.

[Ayah, aku jatuh.]

[Siapa yang jatuh?]

[Apa yang sakit, di mana?]

Terlihat ada panggilan, aku terkikik menahan tawa, kubayangkan raut mukanya yang sedang panik, kubiarkan ponsel berdering, sekali dua kali tidak diangkat. Aku tersenyum puas.

[Aku … aku jatuh cinta padamu.]

[Kirain beneran.]

Selanjutnya suami mengirim emotikon tepok jidat, di susul emotikon hati  dan cium.

Pada suatu hari ketika suami pergi ke Pelabuhan Ratu bersama rekan kerjanya dan aku membuat siomay untuk bekal perjalanan mereka.

[Kata anak-anak, terima kasih siomaynya enak]

Selanjutnya mengirim emotikon cium satu.

[Kok ciumnya cuma satu]

Hanya diread.

[Pengen yang banyak ciumnya]

Masih diread.

[Mana?]

Tetap diread. 

[Pelit]

Lalu tak berselang lama terkirim emotikon cium berjajar.

Terkadang kalau ada keinginan tapi suami enggan memenuhi, aku akan bilang, “Ayah memang sudah berubah, nggak seperti dulu sebelum nikah.” Dan dilanjut dengan merajuk sepanjang jalan kenangan, membandingkan perlakuannya sebelum menikah. Dan suami pun pada akhirnya akan luluh entah karena enggan untuk mendengar lagi ocehan atau karena tatapan memelas istrinya. Oh ya Tuhan, ternyata aku sedrama begitu.

Pernah suatu hari ketika aku sedang berada di Bandung, suami mengirimkan stiker ‘I Love You’, tulisan selanjutnya dia mengirim ‘jangan bilang tumben’. Aku tertawa sepertinya terjadi pergolakan batin untuk bisa mengirimkan chat seperti itu, mengakui perasan rindu karena berjauhan itu butuh perjuangan untuknya.

Tepat hari ini usia pernikahan kami memasuki angka cantik, sweet seventeen. Suatu pencapain yang tidak bisa di bilang sebentar, ini merupakan sebuah rejeki, karena rejeki tidak hanya melulu soal uang, pasangan setia itu juga rejeki.

Kami tidak risau dengan kata mantan, karena kami masing-masing tidak mempunyai mantan. Suami adalah pacar pertama dan aku adalah pacar pertamanya. Fisrt love? Bisa jadi iya. Apakah dulu kami pernah menyukai orang lain sebelum menikah? pernah tapi hanya sebatas suka bukan cinta.
Ini adalah secuil kisah bahagia kami, lebih tepatnya kisah absurd bin alay istri kalau suami dari dulu tetap stay calm.  Dan masih banyak kisah suka daripada duka di dalamnya.  Aku berharap kisah bahagia ini tidak terputus sampai sini, tapi berlanjut pada usia pernikahan dua puluh, tiga puluh tahun dan seterusnya.

Dan untuk suamiku, tetap bersabar mengadapi aku, istri yang jauh dari kata ideal apalagi sebagai  istri sholehah.  I am the luckiest women in the world, having you as my husband.


oleh Neng Sri

Wednesday, 9 December 2020

Literasi# Terjebak Nostalgia

 

literasi,cerpen,novel,cerita


Aku turun dari angkutan umum dengan tergesa. Gawai di tanganku terus berbunyi, aku tak menjawabnya sudah tahu siapa yang mengirim, pasti Ula –teman sebangku dulu-, rese memang dia. Sebenarnya enggan untuk hadir di acara ini, tapi aku tak kuasa memberikan penolakan permintaan sahabatku. Katanya aku harus menyelesaikan yang belum selesai. Apa maksudnya? Aku tak mengerti. Toh aku dulu tidak punya masalah, apanya yang belum selesai.

Aku berdiri sejenak di depan pintu gerbang, menatapnya. Tidak banyak yang berubah hanya cat-nya berganti warna. Sudah tujuh tahun aku telah meninggalkannya, tak terasa tahun cepat berganti, banyak kenangan? tentu saja. Apapun kisahnya, baik ataupun buruk tetap kenangan, ya hanya kenangan cukup dikenang saja.

“Hei … malah bengong di situ, bukannya masuk. Ayo!”

Itu Ula, yang heboh, cerewet dan yang paling menyebalkan kekepoannya yang kadang bikin  aku jengah, tapi anehnya aku betah sampai sekarang sahabatan.

“Udah telat tahu!” sungut Ula sambil menarik tanganku dengan berjalan tergesa.

“Sengaja,” kataku acuh.

Acara diselenggarakan  di aula, aku memilih duduk di  barisan paling belakang, tempat favorifku. Tak menghiraukan rengekan Ula meminta untuk duduk di depan, pada akhirnya dia terpaksa mengalah duduk di sampingku. Meskipun duduk di barisan paling belakang tapi aku masih bisa melihat jelas panggung yang terdekor dengan apik.

Semenjak duduk Ula tak henti menceritakan acara apa saja yang tadi aku lewati, aku tak begitu menyimak. Mataku menelisir setiap sudut aula, tempat yang dulu kami sering gunakan untuk latihan eskul karate. Pikiranku hanyut dalam kenangan akan tempat ini, mengingat itu aku jadi teringat seseorang.

‘Astagfirullah,’ ucapku dalam hati. Aku tak boleh mengingatnya, sekarang keadaan tidak sama lagi.

“Hei, Fatia, baru datang ternyata, kemana aja, gimana kabarnya?” sapa Aira datang bersama khalisa teman sekelas dulu.

“Alhamdulillah baik, Aira, khalisa.”

Beberapa teman satu kelas  terlihat, aku berdiri melangkahkan kaki menyapa mereka, obrolan singkat terjadi lalu kembali duduk di kursi semula.

“Ih, kemana sih orangnya?”

“Siapa, La?”

“Itu orang yang jadi donatur terbesar, katanya mau naik ke panggung. Orangnya sudah di sini juga.”

“Orang siapa sih? Ngomong nggak jelas.”

“Tau akh, nanti kamu tahu sendiri. R a h a s i a.”

Aku lanjutkan obroan dengan Aira dan khalisa, mengabaikan Ula yang sedang merengut sambil mengotak atik gawainya. ‘Fokus banget sama itu benda,’ batinku.

“Ehm … Bismillah. Asalamualaikum teman-teman.” Terdengar suara dari atas panggung.

Ula menyenggol dengan lengan sikunya, membuat aku sedikit kaget. Iya kaget, lebih tepatnya kaget mendengar suara itu lagi, aku tahu betul siapa pemiliknya.

Ula dan aku saling memandang, dia menaik turunkan alisnya,”apa, sih?” tanyaku, lalu mataku beralih melihat orang yang sedang memegang mic di atas anggung. Darahku tiba-tiba berdesir, dia masih sama dengan karismanya, lebih dewasa tentunya.

Suara khas baritonnya mengalun merambat masuk indera pendengaran. Inginku mengalihkan pandangan, tapi gerak tubuh tak sejalan. Aku terpaku melihat dia yang ternyata sedang menatapku. Netra kami bersirobok, mengantarkan kata-kata lewat pandangan, lalu mengalir deras memori telah silam.

‘Cukup!’ kataku dalam benak. Aku berdiri meninggalkan aula. Takut rasa itu masih bersemayam, padahal aku sudah cukup keras menguburnya dalam.

Aku berjalan tergesa, mencari tempat untuk menyendiri, lebih tepatnya menghalau kenangan. Di samping aula ternyata ada kolam, aku duduk di bangku yang tersedia menghadap kolam. Ikan-ikan ini mungkin digunakan untuk pembelajaran para sisiwa. Menatapnya yang berenang membuat hatiku yang bergejeolak sedikit mereda. Tak salah jika ada sebagian orang hobi memelihara ikan di rumah sebagai terapi menenangkan, hal ini pun yang aku rasa.

“Fat, sorry,” kata Ula menyusulku ke kolam.

“It’s oke.”

“Kak Zahran menghubungiku lima bulan yang lalu. Ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.”

“Apa yang harus disampaikan? Kenapa pula harus di acara ini sih, La?”

“Kamu nanti juga tahu sendiri.”

“Selesaikan apa yang selama ini mengganjal di hatimu. Aku tahu itu, kamu hanya pura-pura menganggapnya nggak ada. Aku sahabatmu sejak lama, aku tahu kamu, Fat.”

Ula meninggalkanku sendiri, apa yang diucapkan benar adanya. Aku mengabaikan menganggap itu tidak ada, mencoba melupakaannya padahal selama ini aku memendamnya, kenangan itu tak pernah sirna.  Mungkin ini saatnya.

Kak Zahran … kakak kelas beda satu tingkat, nama yang dulu mengisi hari-hariku di sekolah. Kami mengikuti eskul yang sama yaitu karate. Tak ada kisah cinta sebenarnya, karena sampai dia menjadi alumni pun, tak pernah ada ungkapan darinya. Aku merasa sangat bodoh, mengira segala perhatiannya padaku adalah sebuah pertanda bahwa aku tidak bertepuk sebelah tangan, nyatanya aku yang terlalu besar menaruh harap. Memalukan!

Aku terkejut melihat pantulan bayangan seseorang yang berdiri di sampingku. Aku menoleh, tergagap melihat dia yang memandangku.

“Boleh aku duduk dekat kamu, Fat?”

“Silahkan, Kak!”

“Gimana kabarmu?”

“Alhamdulillah, seperti yang Kakak lihat. Sehat walafiat.”

“Ehm … Fat, kamu pernah nerima surat dari ku?”

“Surat apa?”

“Aku mengirimkan surat untukmu. Satu bulan sebelum lulus, bahkan setelah kuliah pun aku pernah mengirim surat.”

Aku terkejut mendengar kenyataan, bagaimana bisa surat itu tidak pernah sampai ke tanganku. Aku mendengarkannya dengan saksama, menunggu kelanjutannya. Terdengar helaan napasnya pelan, seperti ada sebuah beban yang terpikul di pundaknya.

“Bodohnya aku, surat itu ku titip ke Zahsy.”

Aku terkesiap dengan fakta selanjutnya. Kak Zahsy sepupuku umurnya di atas satu tahun denganku, satu kelas dengan kak Zahran. Walau masih terikat persaudaraan nyatanya kami tidak terlalu dekat.

Kami saling memandang, dapat kulihat sorot matanya sendu. Tidak ada gelagat aneh dari kak Zahsy ketika saat bertemu dalam acara keluarga. Tidak pernah terdengar sekalipun dia menyinggung soal  kak Zahran.  Aku menguar memori, pernah suatu hari kak Zahsy menemuiku di kelas, memberitahukan jika ada seseorang ingin bertemu. Dia menyebutkan waktu dan tempat, namun kenyataannya aku menunggu ditemani Ula selama dua jam orang yang dikatakan kak Zahsy tidak muncul.

 “Apakah, Kakak dulu pernah meminta bertemu denganku, lewat Kak Zahsy?”

 “Iya, tapi kamu tidak datang.”

Pantas saja kami tidak bertemu,  kak Zahsy memberitahukan tempat dan waktu yang berbeda. Aku memalingkan pandangan, menata hati yang tidak karuan. Dia menunduk dalam, dapat kudengar tarikan napasnya, “Tuhan membongkar semua tujuh bulan yang lalu,” lirih suaranya terdengar.

 “Aku menyesal telah menikahinya!”

“Istigfar, Kak!”

“Kenapa, Kakak, tidak mengirimkannya langsung padaku?”

“Karena aku terlalu bodoh, Fat. Terlalu mempercayai apa yang dikatakan Zahsy.”

“Sampai Zahsy mengabarkan bahwa kau telah menikah dengan Eki, saat itu aku berhenti mengharapkanmu.”

Kak Zahsy dan kak Zahran mereka kuliah di tempat yang sama mengambil jurusan yang sama pula. Mereka pasti sering bertemu, tidak heran jika meraka akhirnya menikah. Itu pemikiranku dulu.

“Andaikan saja--.”

“Tidak baik, Kak, berandai-andai.”

“Aku pikir rasaku tidak berbalas.”

“Asal, Kakak, tahu aku pun memiliki rasa yang sama….”

Aku menjeda kalimat.

“… tapi itu dulu.”

“Sekarang?”

“Ada yang lebih berhak atasku.”

Kami terdiam.

“Bagaimana ceritanya jika surat itu sampai padamu, Fat?”

“Maka keadaan tidak pernah berubah.”

“Yakin?”

“Surat itu sampai ke tanganku atau tidak, terbaca olehku atau tidak, tetap aku menikah dengan Kak Eri.”

“Aku pernah mendatangi orang tuamu, mengungkapkan ketertarikannku padamu pada mereka.”

“Dan Kak Eki memintaku pada Sang Pemilik Hati, tentu saja Kakak kalah.”

Aku menoleh kepadanya.

“Aku dan Kak Eri sudah dicatat di lauh mahfudz untuk bersanding. Di tuliskan oleh Sang Kuasa jauh sebelum kami lahir. Sejauh apapun aku dan Kak Eri terpisah tetap kami akan bertemu karana ada benang merah yang disebut takdir.”

“Kak, sebesar apapun usaha kita supaya mendekat tetap akan menjauh. Sekuat apapun usaha kita menolak tetap akan mendekat. Itu yang aku pahami tentang jodoh.”

“Aku tidak bisa menerimanya, Fat.”

“Kak, cobalah untuk melihat dari sisi lain. Kak Zahsy melakukan ini karena dia terlalu mencintai Kakak, walaupun caranya salah. Kakak, sebagai imam tugas Kakak membimbingnya, luruskan yang salah.”

“Diawali dengan cara yang keliru hasilnya tidak akan baik, Fat.”

“Maka pasrahkan semuanya pada Yang di Atas.”

Aku berdiri, sudah cukup rasanya berbicara dengan kak Zahran, hatiku takut goyah, aku tidak mau terjebak.

“Mau kemana, Fat? Aku belum selesai!”

“Aku sudah selesai, Kak!”

“Bagaimana dengan kita, bagaimana dengan ku?”

“Tidak ada lagi kita, Kak!  Kita hanya secuil kenangan dalam hidup. Hanya kenangan tidak perlu untuk diulang!”

Tuhan pasti memiliki alasan mengapa kisahku dengan kak Zahran tidak dibuat lancar seperti jalan tol. Aku pulang tanpa pamitan dengan Ula. Pikiranku tertuju pada lelaki yang sedang menungguku di rumah.


Oleh : Neng Sri

Friday, 29 November 2019

Menggenggam Janji #Part-3


literasi,cerpen,cerbung,janji,genggam,novel



Aku anak kedua perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara. Setelah lulus sekolah, memilih kursus menjahit, mengingat orang tua sebagai buruh pabrik, sedangkan kakakku sudah kuliah dan adikku baru masuk sekolah menengah atas, jika aku meneruskan kuliah pasti sangat berat bagi kedua orang tuaku.

“Punten, kiriman pos.”

Suara itu yang paling di tunggu dalam setiap penantian, hanya lewat untaian kata kami saling berbalas rindu. Aku berlari ke arah sumber suara, Pak Pos sudah hapal sekali surat itu untukku.

“Duuhhh … yang dapat surat dari pacar, meni semringah kitu.”

Aku menerimanya dengan tersipu malu. Surat akan datang sebulan sekali atau lebih tergantung kadar kerinduan, lembaran kertas inilah yang setidaknya sedikit mengobati sakit karena merindu.

Tak pernah kumerasa jemu tuk menghitung berapa purnama lagi akan dilewati, karena hati meyakini bahwa dia akan menepati janji. Di penghujung tahun keempat, ketika mentari berwarna jingga keemasan, dan bunga Desember menampakkan warna merah merekah, aku sedang di depan mesin yang sekarang menjadi rutinitas harian menambah penghasilan, terdengar suara deru motor berhenti di depan rumah.

Deg … dada langsung kembali berdetak kencang, nurani mengatakan bahwa dia yang datang, hati berdebar mengingat ini adalah tahun yang di nanti.

Aku langsung bergegas keluar tak sabar melihat yang datang dan ya … nurani tak salah, ketika dia sedang membuka jaket, dejavu … kejadian delapan tahun silam terulang ... Tatapan mata dan senyumannya mampu menghipnotis ... aku membeku.

Kali ini bukan wajah yang menghangat, tapi mungkin memerah, ada ribuan kupu-kupu indah menari-nari berwarna-warni menggelitik membuat diri untuk segera memberikan senyuman. Senyuman yang selama empat tahun tersembunyi menanti waktu yang tepat.

Senang, rindu, sedih bercampur menjadi satu, hanya lewat tatapan kami saling bicara. Ingin rasa menghambur memeluk dirinya, menabrak dinding norma, menangis menumpahkan segala rasa yang terpendam, tapi malu masih mendominasi. Dia mendekat, aroma maskulin langsung tercium, aroma ini yang ditinggalkan empat tahun silam.

“Asalamualaikum, Neng,” sapanya.

Suara itu, suara yang tak pernah hilang dalam ingatan, yang selalu terngiang setiap saat, yang selalu menemani kala diri dilanda rindu.

“Waalaikumsalam, A.”

“Sehat, Neng?”

“Alhamdulillah, A.”

“ Aa, gimana kabarnya?”

“Alhamdulillah sehat, Aa sekarang cape, Neng.”

“Mengapa langsung kesini? nggak istirahat dulu?”

“Pengen istirahat di sini sambil lihat, Neng.”

Blush … seketika wajahku menghangat. Sesaat aku terkesima, wajah yang selalu hadir di pelupuk mata, yang selalu bertanya pada sang waktu kapan akan bertatap lagi kini menjadi kenyataan, berdiri dengan tegap di hadapan, wajah yang menyiratkan kedewasaan.

“Ini  nggak di suruh masuk gitu, Neng?”

“Eh … iya lupa, masuk, A.”

Kami duduk saling berhadapan dalam keadaan canggung, meskipun getar itu terasa dalam, tapi kami menyembunyikannya, lewat binar matanya aku tahu dia pun merasakan hal yang sama denganku … rasa membuncah karena kebahagiaan,

“Neng,  besok ke rumah ya,  Aa mau kenalin, Neng sama orang tua.”

Bahagia bercampur takut menyambut penawarannya, karena artinya aku akan bertemu dengan guru SMP dulu, Ibu Ningsih Wiranatakusuma dan suaminya yang semua orang pasti mengenalnya, mengingat beliau adalah anggota DPRD, Bapak Usman Wiranatakusuma.

Sebuah kasta yang teramat jurang.

“Aa … Neng takut.”

“Takut apa? memangnya Bapak sama Ibu Aa macan?”

“Bukan gitu, Aa. Ibu Aa guru Neng waktu SMP, Bapak Aa pejabat. Ari orang tua Neng cuma
buruh pabrik.”

“Mengapa ada pikiran kaya gitu?”

“Neng, hanya takut orang tua Aa nggak setuju jalan bareng sama anak buruh pabrik.”

“Neng, Aa mau tanya, Neng sayang nggak sama Aa?”

“Iya.”

“Iya apa?”

“Ish … Aa,  iya atuh sayang, makanya Neng nungguin Aa.”

“Percaya sama Aa?”

“Percaya.”

“Kalau itu terjadi, mau berjuang bareng?”

Aku langsung mendongkak, melihat netranya, benarkah yang aku takutkan sedang terjadi.

“Neng? Mau berjuang?” Dia mengulang pertanyaan.

“Iya, A.” Aku menjawab dengan lirih.


************

Usianya memasuki seperempat abad, sepakat untuk menghalalkan ikatan, menyempurnakan rasa, mengabadikan dalam bingkai pernikahan, mengarungi bahtera rumah tangga bersama, daripada merana menahan gejolak rasa yang belum pada tempatnya.

Meminta restu orang tua merupakan suatu kewajiban, karena dari sana terdapat keberkahan. Sedikit banyak aku khawatir, mengingat selama beberapa kali kunjungan, sikap yang ditunjukan kurang berkenan, meskipun tidak keluar lewat kata tapi disini … di hati meraskan ada sesuatu. Begitu pula dengan orangtuaku, ketika maksud disampaikan, bukan restu yang terucap melainkan keraguan.

“Shalat istikharah dulu, Neng sebelum memustuskan, sebelum melangkah lebih jauh, alangkah baiknya di pertimbangkan dengan masak agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.” Begitu wejangan dari lelaki yang kuhormati.

“Neng kita harus tahu diri darimana kita berasal, jangan mengharap terlalu tinggi nanti kalau jatuh sakit pisan.” Sambung ibuku mengingatkan.

Ada apa ini ? jika tidak berkenan kami menjalin, mengapa selama ini dibiarkan bertemu. Jika perasaan ini salah mengapa membiarkan cinta terbangun dengan megah.


oleh Neng Sri

Tuesday, 19 November 2019

Menggenggam Janji #Part-1


literasi, cerbung, tulisan,cerita,cinta,roman,novel,janji


Tahun 1990 bulan Juli hari Senin, upacara pertama di sekolah dengan seragam putih biru. Aku di barisan pertama karena bertubuh mungil. Tepat didepan sana, sejajar dengan jarak kurang lebih tiga meter suara pemimpin upacara terdengar lantang, kuperhatikan punggungnya berdiri tegap dengan bahu yang kokoh. Setelah mendapat jawaban dari pembina upacara, dia membalikan badan, tepat pada saat itulah netranya bersirobok dengan netraku, sret … entah berapa detik kami saling pandang … sesaat … lalu dia tersenyum … ces … wajahku tiba-tiba merasakan hangat,’apa ini?’ tanyaku dalam benak. Aku langsung mengalihkan pandangan, begitupun dengan dia.

Dari hasil menguping obrolan teman-teman, dia kelas tiga A, anggota paskribra, juga anak dari guru bahasa Indonesia, Ibu Ningsih Wiranatakusuma. Kelas ruanganku dengannya jauh kalaupun bertemu sesekali dan jika berpapasan selalu memberikan senyuman. Satu hal yang selalu aku ingat dari dia yaitu cara berjalannya, memasukan kedua tangan ke dalam saku celana dengan kepala sedikit menunduk.

Lalu takdir mempertemukan kembali di sekolah lanjutan atas yang sama, dia masih dengan paskibranya, aktif di Osis dan anak Fisika. Entah sejak kapan memulai, siapa yang memulai, kami selalu bertemu di perpustakaan, setiap hari, seperti menjadi jadwal tambahan sekolah. Tak sepatah katapun yang keluar, tak ada tegur sapa, tak ada yang berani memulai, menyukai dalam diam, tapi saling mencuri pandang dengan senyum yang disembunyikan. Apakah panah cupid sudah masuk ke dalam hati kami? Entahlah … yang aku rasa bertemu dengannya menjadi sebuah candu, walaupun hanya lima menit tapi itu sudah cukup menambah nutrisi.


Kelulusan kelas tiga akan segera datang, perasaan sendu mulai hadir, hati mulai berembun tinggal menunggu waktu berubah menjadi deras, mulai menghitung hari kapan raga akan berjarak jauh, wajah tak lagi menampakan sinarnya, mendung tak dapat lagi ditahan, enggan untuk berpisah.

Berdiri di jajaran rak buku, pikiran tak bisa lagi fokus, tangan memegang buku tapi bukan dibaca melainkan hanya dilihat, tanpa disadari dia sudah ada disamping kanan. Bahuku bersentuhan dengan lengannya, terhalang oleh seragam sekolah, aroma maskulin tercium, satu tangan memengang buku satu tangan lagi memegang dada sebelah kiri, mengapa detaknya begitu cepat, apa sedasyat ini pengaruhnya jika berdekatan sedekat ini dengan dia?

Hening.

Tak ada yang berani memulai berucap, masing-masing dengan pikirannya sendiri, menikmati kedekatan berdua dengan suara di dada yang semakin tak karuan. Lalu dia menoleh, aku pun sama, dan menetap saling mengunci pandang … sedetik … dua detik … tersenyum, lalu pandangan beralih kembali ke rak buku . Tangannya menelusri jajaran buku, entah apa yang dicari atau hanya pengalihan saja ... dan dia berkata,

“Aku nerusin ke Magelang, mungkin empat tahun.”

Aku menunduk semakin dalam.

Ke Magelang atau tidak, tetap akan berpisah.

“Do’ain supaya lancar sekolahnya.”

Aku membisu, dari ujung mata terlihat dia melirikku.

“Jangan sedih …  Aa, janji setia.”

Dia tahu isi hatiku? Dia tahu apa yang aku rasakan?

“Tunggu Aa, ya! Bisa kan?”

“Neng …”

“Hhmm.”
        
“Aa, pergi.”


-- by Neng Sri --

Tuesday, 17 December 2019

Menggenggam Janji #Part 5



literasi, cerpen, cerbung,janji,cerita,genggam,sedih,novel,roman


Semalaman hujan tiada berhenti, meskipun hanya rintik kecil tapi mampu membasahkan bumi. Residu kehadirannya masih terlihat dari tetesan air pada ujung daun-daun. Hingga pagi ini, hari libur yang berselimut mendung, raga enggan beranjak masih betah  bermanja dengan bantal dan guling. Aku duduk dengan memeluk lutut yang tertekuk di atas ranjang, percikan hujan hinggap hingga di kaca jendela kamar. Aku memainkan embun yang ada pada kaca, jari-jariku meliuk-liuk pelan membentuk sebuah kata, lalu berhenti seketika. Aku terperanjat, ternyata mendung di temani petir yang menggelegar, padahal cakrawala belum menurunkan air. 

Aku tarik tangganku, lalu memandang deretan kata-kata yang berhasil diukir, ternyata ada banyak kata ‘Aa’ di sana. Seorang lelaki yang telah berhasil menyedot hati dan pikiran sejak berumur tiga belas tahun. Duniaku terpenuhi oleh sosok dirinya, aku mendesah resah.

Kembali aku memutar ulang pertemuan kemarin, rasa pilu masih menghuni kalbu. Apakah dia merasakan keresahan juga? Teringat sebuah benda yang diberikan padaku, bergeser sedikit mengambilnya di bawah bantal.

“Ini buat Neng. Untuk komunikasi kita biar cepet, nggak usah nunggu pos lagi kalau pengen tahu kabar, Neng.”

Aku menolak, bukan tidak mau tapi tidak terbiasa dengan pemberian barang mahal. Dia memaksa, “ini untuk menunjang usaha kita mendapat restu, Neng.” Alasannya.

Lalu aku akhirnya menerima benda tersebut, “nanti aku ganti, ya, A. Berapa harganya?”

“Ck … Neng sayang nggak sih sama Aa? Serius nggak? Aa ini siapanya Neng? Inget janji, Neng.”  Kulihat keningnya berkerut, bulu alisnya hampir bertemu, intonasi suaranya sedikit tajam.

Aku terkesiap, tidak sangka pertanyaanku membuat dirinya tersinggung. Aku yang tidak siap dengan amarahnya, menjadi sedikit menunduk.

“Neng cuma nggak biasa dibeliin barang mahal sama orang lain, Aa.”

Sadar aku menjawab sendu, dia mengulur meraih tanganku dan mengelusnya, “maaf, Aa sudah berkata kasar. Terima ya, Neng. Ini hadiah buat Neng sebagai tanda Aa nggak main-main sama janji. Aa sungguh-sungguh ingin menikah sama Neng, kita sedang tersandung masalah restu, kalau ada sesuatu ‘kan bisa langsung tahu, kita jadi bisa susun rencana dengan matang, Neng ngerti, ‘kan maksud Aa?” Dia menjelaskan dengan suara lembut.

Nokia 3310 berada dalam genggaman, menimbang, haruskah aku menghubunginya? Tiba-tiba aku terperanjat, dari balik jendela kaca kurang lebih sepuluh meter terlihat pasangan sedang berjalan pelan menuju rumah. Aku tak percaya, benarkah mereka datang? ‘bukan, itu bukan mereka,’ gumamku. Mulut bisa berkata bukan tapi hati kecil mengiyakan.  Aku bangkit dengan tangan menutup mulut, lalu bergegas keluar kamar, menuju pintu rumah, ternyata hati kecil tak pernah salah, mereka adalah guruku sewaktu SMP bersama suaminya, orang tua lelakiku.

Ada apa mereka kemari? Berkecamuk pertanyaan dalam pikiran, masih terlalu pagi jika berkunjung. Sesaat aku linglung, harus bagaimana. Masuk ke kamar, membuka lemari dan bercermin, penampilan masih semrawut, tak mungkin, ‘kan aku menemui mereka dengan penampilan yang memalukan. Masuk ke kamar mandi, hanya lima menit berada di sana, masuk lagi ke kamar dan merapihkan penampilan.

Aku lari ke belakang, menuju Bapak dan Mamah yang sedang berada di dapur, memberitahu siapa yang sedang berjalan kemari. Dengan terbata-bata, “Pak, Mamah, i-itu a-ada …,”  belum sempat menyelesaikan kalimat, terdengar ketukan pintu depan, di susul suara “asalammu'alaikum.” Itu pasti Bapak Syarif Wiranatakusumah, kami saling berpandangan, mereka mengerutkan dahi “siapa itu, Neng?” Perasaan was-was mulai melanda, kemudian Mamah dan Bapak berjalan menuju ke ruang tamu, “waalaikumsalam.” Mamah menjawab.

Tak lama kemudian Mamah kembali ke dapur, “Neng itu orang tua Aa, katanya mau jahit baju seragam ….” Beliau tidak melanjutkan, kata terakhirnya terdengar pelan.

“Seragam apa, Mah?” tanyaku penasaran.

“Seragam buat acara lamaran … si Aa.”

Duaarr

Suara Mamah terdengar pelan di telinga, tapi bagaikan suara petir yang menggelegar pada kalbu, tersentak seketika, kilatan listriknya mampu menyengat jantung. Setitik harapan masih kugenggam kemarin, tapi sekarang hangus terbakar.

Aku limbung, tulang seakan lepas dari raga, tak kuat menopang, segera mencari pegangan pada kursi, lalu mengempaskannya. Aku menangis tanpa suara isakkan, pipi yang basah menandakan pedih itu ada. Ini bukan lah bunga tidur, pagi ini adalah nyata adanya.


Oleh Neng Sri